Revolusi Sunyi Meretas Polusi
Foto: ToyotaJakarta -Sorotan terhadap buruknya kualitas udara Jakarta kolam lelucon. Predikat polusiterkotor di dunia menempel di tengahmegahnya perhelatan akbar otomotif terbesar di daerah ASEAN, yakniGaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang belum usang ini sukses diselenggarakan. Ajang itu menarik ratusan ribu pengunjung. Catatan transaksi penjualan dalam bilangan triliun.
Sayangnya, predikat produk best seller di bazar itu bukan diraih kendaraan ramah lingkungan. Jualan unggulan justru diraih kendaraan beroda empat dan sepeda motor berbahan bakar bensin. Padahal, di bazar itu, kendaraan beroda empat ramah lingkungan dielu-elukan,. dan berada di jajaran panggung terdepan. Sederet teknologi mutakhir dunia otomotif diusung. Yang utama tentu mengurangi ketergantungan insan pada materi bakar berpolutan.
Regulasi. Itulah pangkal persoalan, sehingga kendaraan ramah lingkungan masih sebatas pajangan di pameran. Aturan di Indonesia belum mendukung kendaraan beroda empat listrik dan variannya: EV, hybrid maupun PHEV sepi di jalanan. Mobil-mobil langit biru itu masih terkendala oleh ragam pajak memberatkan.
Persiapan implementasi regulasi kendaraan beroda empat listrik bergotong-royong sudah dimulai beberapa tahun yang lalu. Bahkan semenjak 2017 pemerintah telah menjanjikan bakal merilis peraturan kendaraan beroda empat listrik. Janji senada diulang-ulang setiap tahun ketika ada momen bazar otomotif.
Baru-baru ini beberapa pejabat terkait kembali menjanjikan wacana regulasi kendaraan beroda empat listrik. Antara lain disampaikan oleh Wakil Presiden, Menko Maritim, Menteri ESDM, Menteri Perindustrian, dan Menteri Keuangan. Janji itu bahkan diamini oleh Gaikindo selaku asosiasi industri otomotif.
Sebelum-sebelumnya, keterangan para pejabat berwenang tersebut seolah menguap dan tak tentu. Hilang ditelan waktu. Kabar baiknya, info terbaru dari bundar pemerintah menjanjikan impian yang lebih sahih. Sebab menteri-menteri yang angkat bunyi memang terkait kebijakan kendaraan beroda empat listrik. Para pejabat tersebut bahkan mengaku turut menandatangani draft perpres yang kini menunggu final touch di meja Presiden Jokowi. Tinggal menunggu waktu untuk diteken Presiden, katanya.
Revolusi Senyap
Di level global, revolusi senyap kendaraan beroda empat listrik yang tanpa asap dan bunyi ini memang tengah berlangsung. Bak gelombang, mewabah di banyak sekali belahan dunia. Amerika, Eropa, dan bahkan China berlomba jadi terdepan dalam melaju. Bukan sekadar regulasi biar kendaraan beroda empat listrik melenggang di jalanan. Namun juga memacu kendaraan beroda empat listrik sebagai peletup disrupsi industri otomotif.
Ada banyak misi di balik derap sunyi kendaraan elektrik. Termasuk gosip lingkungan ibarat yang jadi diskursus utama yang mencuat di tengah Jakarta yang polutif. Di negara sekelas Amerika Serikat yang merupakan jantung bisnis dunia sekalipun, sumber polusi utama ternyata bukan lantaran industri (baca: keberadaan pabrik-pabrik dan perkantoran).
Menyitir data dari United States Environmental Protection Agency (EPA), sumber utama emisi di negara industri terbesar dunia tersebut berasal dari polusi transportasi. Sebesar 29 persen polusi di AS disumbang oleh kemudian lalang kendaraan sebagai instrumen mobilisasi. Sementara industri menduduki posisi ketiga dengan bantuan 22 persen sebagai biang polusi. Di posisi kedua, sebesar 28 persen polusi bersumber dari elektrifikasi.
Data ini sengaja di ketengahkan sebagai benchmark dengan buruknya udara Jakarta. Selain masifnya industri dan kebutuhan listrik perkantoran hingga rumah tangga, kendaraan bermotor juga menjadi biang kontributor polusi di ibu kota. Gambarannya tak jauh beda dengan yang terjadi di Amerika.
Karena itu, pemerintah mesti mengambil langkah-langkah solutif. Bukan di satu sektor saja. Apalagi sekadar mengkritisi pembangkit listrik di sekitaran Jakarta. Namun dengan kebijakan terpadu. Termasuk upaya meminimalisir peredaran kendaraan bermotor di Jakarta dengan kendaraan ramah lingkungan.
Mendorong masyarakat beralih ke kendaraan bertenaga elektrik terbukti memberi banyak benefit. Menjaga langit biar tetap biru, hanya satu di antaranya. Manfaat lain dari kendaraan elektrik ialah mengurangi konsumsi materi bakar minyak. Ini amat menolong APBN sehat dan rupiah kuat. Sebab Indonesia ialah net importir minyak.
Bagi penggunanya , kendaraan beroda empat listrik terang lebih hemat. Sebagai komparasi, kendaraan beroda empat bermesin bakar berkubikasi 1.500cc mengonsumsi satu liter bensin RON92 untuk jarak 12 Km. Artinya setiap km harus ditebus seharga Rp 820 per kilometer. Sementara dengan kendaraan full elektrik cuma butuh biaya Rp 300-400 per kilometer. Artinya, pengguna kendaraan beroda empat listrik mengantongi efisiensi hingga 50%.
Itu gres biaya harian untuk materi bakar. Belum efisiensi perawatan. Sebab komponen kendaraan elektrik tak sekompleks mesin bakar. Biaya maintenance otomatis terpangkas, jauh lebih murah.
Bila dicermati, kurun kendaraan beroda empat listrik ialah cuilan dari gelombang revolusi industri yang melanda dunia. Seperti e-commerce dan tekfin di sektor ekonomi, tech health care di bidang kesehatan, ride hailing, electric vehicle dan autonomous car di sektor otomotif.
Beberapa pabrikan kendaraan beroda empat bahkan telah mengintegrasikan sistem digital terkini ke dalam produknya. Sistem virtual yang sigap diperintah oleh pengemudi atau penumpang bahkan sudah ada yang berbahasa Indonesia. Pabrikan Jerman bahkan sudah mengenalkan sistem pengisian daya secara virtual. Isi baterai kendaraan beroda empat sanggup dikontrol melalui gawai di genggaman.
Begitulah dongeng revolusi sunyi kendaraan ramah lingkungan bersenyawa dengan digitalisasi. Gelombang revolusi gres ini juga mengusung efektivitas dan gosip keberlanjutan. Juga memperlihatkan nilai berbasis efisiensi dengan bobot yang baru. Karena itu, adopsi kendaraan ramah lingkungan sudah saatnya didorong. Sebelum terlambat, dan langit semakin kelabu.
Jusman Dalle Direktur Eksekutif Tali Foundation dan praktisi ekonomi digital
Tulisan ini ialah kiriman dari pembaca detik, isi dari goresan pena di luar tanggung jawab redaksi. Ingin menciptakan goresan pena kau sendiri? Klik di sini sekarang!
Sumber detik.com