Ada Di Jepara! Beli Telur Bebek, Bayarnya Pakai Sampah Plastik
Beli telur angsa dengan sampah plastik. (Wikha Setiawan/detikcom)Jepara -Warga di Kabupaten Jepara sekarang bisa menukar sampah plastik dalam bentuk ecobrick (ekobrik) dengan sebutir telur bebek. Melalui aktivitas yang diberi nama Tante Rosa, ekobrik yang bisa ditukar dengan sebutir telur yaitu yang mempunyai berat setengah kilogram.
"Tante Rosa itu abreviasi dari Tabungan Telur dari Ekobrik Sampah. Makara satu ekobrik seberat setengah kilogram akan diganti satu butir telur. Itu bisa eksklusif diambil atau boleh ditabung dulu telurnya," ujar Kepala Puskesmas Kedung II Suhadi kepada detikcom di Jepara, Jumat (9/8/2019).
Ekobrik merupakan kumpulan sampah plastik yang sudah dipadatkan di dalam sebuah botol plastik. Sedangkan aktivitas Tante Rosa, kata Suhadi, sudah berlangsung selama dua bulan ini dan telah diikuti oleh warga, termasuk anak-anak.
"Tiap orang renta atau bawah umur yang menabung sampah akan diberi kertas atau semacam buku tabungan dari kami," tuturnya.
Ekobrik yang terkumpul untuk sementara waktu ditaruh di gudang rumah dinas Kepala Puskesmas Kedung II. Suhadi menjelaskan ekobrik yang sudah terkumpul nantinya akan dibentuk hiasan taman di sejumlah lokasi.
"Memang tamannya tidak terlihat begitu indah, tapi di balik itu ada sesuatu tujuan yang lebih baik ke depan. Lingkungan bisa higienis dari sampah (plastik)," imbuh dia.
Program Tante Rosa sudah dilaksanakan di enam desa binaan, yakni Desa Tedunan, Karangaji, Panggung, Surodadi, Desa Kalianyar, dan Kedungmalang.
"Awalnya kita beri sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat di enam desa tersebut. Untuk ketika ini kita pastikan masyarakat aktif memunguti sampah yang berada di sekitarnya," tutur Suhadi.
Suhadi melanjutkan telur angsa dipilih untuk jadi penukar ekobrik bukan tanpa alasan.
Selain menjaga kesehatan lingkungan, kata Suhadi, aktivitas ini sekaligus bertujuan untuk mencegah stunting, kurang gizi, dan menunjukkan kesejahteraan pengusaha telur angsa di wilayahnya.
"Selain itu, kita beli telur dari pengusaha telur lokal sini. Di desa binaan, kita sering menemukan penyakit diare, tipus, disentri, dan batuk-flu," ungkapnya.
Selama dua bulan berjalan, Tante Rosa bisa mengumpulkan sekitar 600 kilogram sampah plastik.
"Dan kita sudah habiskan sekitar 500 telur bebek," ucapnya.
Ia berharap aktivitas ini akan bisa mendorong pemerintah kawasan menciptakan regulasi terkait pembatasan penggunaan plastik.
"Harapannya, ada regulasi terkait pembatasan penggunaan plastik," harapnya.
Salah seorang siswa kelas IV SDN 1 Tedunan yang mengikuti aktivitas ini, Alya Ikmaliyana, mengaku bahagia bisa mengumpulkan sampah plastik.
"Kalau habis jajan, bungkusnya saya kumpulkan. Itu juga, jika ada sampah di sekitar rumah, saya ambil, masukkan ke botol," katanya.
"Sudah tiga kali ke sini bawa sampah. Dapat telur. Itu telurnya saya kasih Ibu untuk dimasak," kata Alya.
Sumber detik.com