Bali Setop Aktivitas Kb, Kepala Bkkbn Singgung Kebijakan Selaras Ilmu
Hasto Wardoyo -- Foto: Eko Susanto/detikcomMelalui Instruksi Gubernur (In-Gub) No 1545 Tahun 2019 perihal Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali yang diteken pada 14 Juni 2019 lalu, Koster menginstruksikan kepada wali kota/bupati se-Bali segera menghentikan kampanye dan sosialisasi 'keluarga berencana (KB) dengan dua anak cukup atau dua anak lebih baik.
Melalui In-Gub ini keluarga Bali dipersilakan melahirkan anak lebih dari dua bahkan empat dengan penyebutannya terdiri atas Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut atau nama lain sesuai kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur dan tetua Krama Bali. Koster juga meminta para kepala tempat untuk mengkampanyekan KB ala Krama Bali ini.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, mengaku bahwa masing-masing kepala tempat memang berhak menciptakan hukum seusuai dengan kearifan lokal yang berlaku di daerahnya. Namun demikian, Hasto tetap ingin memberikan kasus utama perlunya jadwal KB.
"Saya mengerti itu bahwa masing-masing tempat itu punya kebijakan yang sifatnya local genius. Local genius, local wisdom, apa istilahnya bab dari budaya, tapi kami ini selalu ingin menjelaskan, memberikan bahwa pertimbangan jumlah anak itu, yaitu pertimbangan biologis, pertimbangan kesehatan," kata Hasto kepada wartawan usai membuka upacara Pembelajaran Bela Negara Dalam Rangka Orientasi CPNS BKKBN di Magelang, Senin (5/8/2019).
"Saya pun akan sampaikan kepada Pak Gubernur Bali dalam waktu akrab ini untuk memberikan bahwa pertimbangan kita yaitu pertimbangan biologis. Penelitian di seluruh dunia semua punya evidence based, punya keseragaman yang sama di-statistics review yang sama bahwa anak ketiga ke atas angka janjkematian ibunya tinggi," lanjutnya.
Pertimbangan biologi dan kesehatan inilah yang akan disampaikan kepada Gubernur Bali. Selain itu, rahim wanita berisiko tinggi pada kelahiran anak ketiga dan setelahnya.
"Rahim wanita jika sudah tiga kali dipompa kempes, pompa kempes, maka dipompa yang terakhir ini kempesnya agak sulit sehingga kesudahannya perdarahannya banyak itu saja yang perlu kita sampaikan. Sehingga kami juga ingin memberikan alasan-alasan biologis kepada masyarakat," ujarnya.
"Jadi (punya) dua anak itu memang lebih sehat, tidak dapat dibantah alasannya yaitu itu ilmu. Ini bukan kebijakan. Ini ilmu. Kalau dua (anak) lebih sehat itu ilmu, bukan kebijakan. Kalau dua anak cukup, itu kebijakan. Tapi jika dua anak lebih sehat itu, ilmu. Ya biar dibedakan," katanya.
Sumber detik.com